Formula 1 akan membawa format sprint ke Monaco pada kalender 2027, sebuah keputusan yang memicu perdebatan karena karakter sirkuit jalan raya tersebut sangat berbeda dari kebanyakan venue lain. Monaco dikenal sebagai lintasan yang sulit menyalip dan sering menghasilkan balapan prosesi. Namun, format sprint akan menghadirkan dua sesi kualifikasi dalam satu akhir pekan—sesuatu yang dinilai dapat mengubah daya tarik tradisional Grand Prix Monaco.
Selama ini, F1 memiliki enam akhir pekan sprint dalam semusim. Format tersebut memberi promotor lebih banyak sesi kompetitif pada Jumat dan Sabtu, sehingga penonton yang membeli tiket mendapat lebih banyak aksi di lintasan. Data yang diklaim manajemen F1 juga menunjukkan bahwa penggemar lebih tertarik menyaksikan sesi yang menentukan dibandingkan latihan bebas.
Tradisi Monaco terancam berubah
Jurnalis Ronald Vording menilai manfaat komersial format sprint memang jelas, tetapi Monaco tidak terlalu membutuhkan tambahan perlombaan untuk menarik penonton. Menurut dia, persoalan utamanya bukan sekadar hadirnya balapan sprint, melainkan dampaknya terhadap alur akhir pekan yang selama ini menjadi bagian penting dari pengalaman di Monaco.
Format tradisional Monaco membangun ketegangan secara bertahap. Pada latihan pertama, para pembalap biasanya masih menyisakan jarak aman dari dinding. Sehari kemudian, terutama menjelang akhir latihan ketiga, mereka mulai mendekati batas di tikungan seperti Piscine dan Tabac. Proses meningkatkan kepercayaan diri sekaligus mencari batas tersebut mencapai puncaknya dalam kualifikasi pada Sabtu sore.
Vording mengingatkan bahwa risiko dari proses itu pernah terlihat pada 2018, ketika Max Verstappen mengalami kecelakaan pada latihan terakhir dan harus melewatkan kualifikasi meski memiliki mobil yang berpotensi memenangi balapan. Dengan sprint pada Sabtu pagi, pola persiapan menuju kualifikasi utama akan berubah. Pembalap juga harus mempertimbangkan seberapa besar risiko yang layak diambil sebelum sesi kualifikasi yang sangat menentukan posisi start Grand Prix.
“Dua sesi kualifikasi di Monaco tidak diragukan lagi akan spektakuler, tetapi ini mengubah DNA akhir pekan Monaco dan cara pembalap membangunnya,” tulis Vording. Ia mengaku belum yakin perubahan tersebut dibutuhkan.
Format sprint dinilai perlu tujuan baru
Oleg Karpov memandang kalender 2027 secara umum telah memadukan sirkuit bersejarah seperti Monza, Spa, dan Monaco dengan lokasi baru seperti Las Vegas dan Miami. Namun, ia mempertanyakan apakah sprint yang terus diperbanyak harus tetap berbentuk “mini-grand prix” yang hanya menjadi pratinjau balapan utama.
Karpov mengusulkan format yang lebih berani, termasuk grid terbalik berdasarkan klasemen kejuaraan. Menurut dia, pendekatan itu dapat memberi peluang lebih besar kepada tim seperti Cadillac dan Williams, sekaligus menciptakan tantangan bagi pemimpin klasemen yang harus mengejar dari belakang. Ia mengakui format tersebut artifisial, tetapi menilai sprint memang seharusnya menawarkan sesuatu yang berbeda tanpa mengubah nilai utama Grand Prix.
Pandangan lain mengusulkan solusi yang lebih moderat: kualifikasi satu putaran untuk menentukan grid sprint, dengan urutan pembalap mengikuti klasemen. Dalam skema itu, Kimi Antonelli akan turun lebih awal ketika kondisi lintasan belum optimal, sementara pembalap Aston Martin dan Cadillac mendapat kesempatan terakhir.
Usulan tersebut dianggap dapat menambah ketidakpastian tanpa menerapkan grid terbalik penuh. Namun, khusus Monaco, kritik yang lebih mendasar tetap muncul: setelah eksperimen dua kali pit stop pada 2025 tidak berhasil, F1 dinilai berisiko menerima begitu saja bahwa balapan di sana sulit menjadi perlombaan menyalip, lalu mengandalkan dua sesi kualifikasi sebagai daya tarik utama.





