Geger Intel Korsel Nyamar Jadi Pengusaha Korut, Perekam di Penis

by -84 Views

Selama bertahun-tahun, Park Chae-seo dikenal di Korea Utara sebagai pengusaha yang mampu menjalin hubungan dengan kalangan elite Pyongyang. Di balik identitas tersebut, ia menjalankan operasi intelijen untuk Korea Selatan—bahkan berhasil bertemu langsung dengan pemimpin tertinggi Korut, Kim Jong Il, sambil membawa alat perekam yang disembunyikan di alat kelaminnya.

Misi itu bermula pada 1993, ketika Park masih aktif sebagai tentara. Ia direkrut Badan Intelijen Korea Selatan untuk mengungkap program senjata nuklir Korea Utara. Agar dapat bergerak tanpa dicurigai, Park lebih dulu menghancurkan citranya sendiri di lingkungan militer.

Ia sengaja membangun reputasi sebagai prajurit bermasalah: kerap membangkang, gemar berjudi, mengejar perempuan, dan terlilit utang. Strategi tersebut berhasil. Park akhirnya dipecat dari militer tanpa diketahui bahwa dirinya telah menjalankan tugas rahasia.

Membangun Akses lewat Jaringan Bisnis

Setelah keluar dari militer, Park menggunakan identitas barunya sebagai mantan tentara yang mengalami masalah keuangan untuk beralih menjadi pengusaha. Ia membangun jaringan perdagangan di China dan mulai berhubungan dengan para pebisnis asal Korea Utara.

Karier bisnis itu kemudian membuka jalan menuju lingkaran kekuasaan Pyongyang. Park menjalin hubungan dekat dengan Jang Song-thaek, saudara ipar Kim Jong Il. Setelah membantu Jang dalam sebuah urusan bisnis, Park memperoleh kepercayaan dan akses untuk menjalankan usaha langsung di wilayah Korut.

Jang juga memperkenalkannya kepada sejumlah pejabat dan elite politik Korea Utara. Posisi tersebut memberi Park kesempatan untuk mengamati lebih dekat cara kerja kepemimpinan Pyongyang.

“Misi saya adalah menembus sedalam mungkin ke dalam kepemimpinan Pyongyang untuk mengetahui apa yang sebenarnya mereka pikirkan,” ujar Park kepada The New York Times, seperti dikutip pada Senin (21/9/2026).

Meski beberapa kali dicurigai otoritas Korea Utara, Park mampu menghindari ancaman eksekusi militer. Salah satu cara yang digunakannya adalah menjual barang-barang antik kepada para penguasa, termasuk keramik antik bernilai jutaan dolar.

Dari aktivitas itu, Park menilai dirinya memahami salah satu kelemahan rezim tersebut, yakni ketertarikan besar terhadap uang. “Jika saya berhasil, itu karena saya sangat memahami betapa besarnya selera mereka terhadap uang,” tuturnya.

Perekaman Pertemuan dengan Kim Jong Il

Puncak operasi berlangsung ketika Park mendapat undangan untuk menghadiri pertemuan pribadi dengan Kim Jong Il. Dalam audiensi selama 35 menit, ia membawa alat perekam rahasia yang disembunyikan di alat kelaminnya.

Pertemuan itu berjalan sesuai rencana. Percakapan rahasia Kim Jong Il berhasil direkam dan dikirim ke Seoul. Keberhasilan tersebut menjadikan Park, yang beroperasi dengan nama samaran “Black Venus”, salah satu dari sedikit mata-mata yang pernah berada sedekat itu dengan pemimpin tertinggi negara lawan.

Namun, penyamaran Park tidak terbongkar karena operasi kontraintelijen Korea Utara. Identitasnya justru terseret skandal politik di Korea Selatan menjelang pemilihan presiden 1997.

Dalam skandal tersebut, oknum badan intelijen Korea Utara dan Korea Selatan diduga bekerja sama secara tertutup karena sama-sama tidak menginginkan Kim Dae-jung memenangkan pemilihan. Park mengetahui konspirasi itu, lalu membelot dari institusinya dan membocorkan rencana tersebut kepada kubu Kim Dae-jung hingga akhirnya diketahui publik.

Setelah sejumlah pimpinan badan intelijen Korea Selatan ditangkap, mereka membalas dengan membocorkan identitas Park sebagai agen rahasia “Black Venus” kepada media. Park kemudian melarikan diri ke China. Pada 2010, ia ditangkap militer Korea Selatan dengan tuduhan melakukan kontak ilegal dan membagikan data sensitif kepada Korea Utara.

Source link