Ternyata, Otak Tidak Benar-Benar Bisa Multitasking

by -72 Views

Membalas pesan di tengah pekerjaan sering terasa seperti cara efisien untuk menyelesaikan beberapa hal sekaligus. Namun, ketika semua aktivitas membutuhkan perhatian, otak umumnya tidak memprosesnya secara bersamaan. Yang terjadi lebih sering adalah perpindahan fokus secara cepat dari satu tugas ke tugas lainnya.

Penjelasan mengenai cara kerja tersebut dilansir dari National Library of Medicine pada 20 September. American Psychological Association juga menjelaskan bahwa kondisi ini dikenal sebagai task switching, yakni proses mengalihkan perhatian dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain.

Ketika perhatian berpindah dari satu tugas ke tugas lain

Bayangkan seseorang sedang mengerjakan tugas rumah, lalu menerima notifikasi pesan. Ia menghentikan pekerjaannya, membaca dan membalas pesan, kemudian kembali ke tugas semula. Urutan ini dapat berlangsung sangat cepat sehingga terasa seperti dua aktivitas dilakukan dalam waktu yang sama.

Padahal, setiap perpindahan membutuhkan penyesuaian. Otak harus kembali mengingat apa yang sedang dikerjakan, menentukan langkah berikutnya, lalu membangun lagi konsentrasi yang sempat terputus. Proses tersebut mungkin tidak selalu terasa jelas, terutama ketika gangguannya hanya berlangsung beberapa detik.

Pola yang sama dapat terjadi saat seseorang menulis sambil membuka email, beralih ke percakapan, kemudian kembali ke halaman pekerjaan utama. Masing-masing aktivitas mungkin tampak sederhana, tetapi perhatian harus berulang kali diarahkan ulang. Waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan pun dapat menjadi lebih panjang dibandingkan jika pekerjaan dilakukan dalam satu alur.

Dalam konteks ini, multitasking bukan sekadar soal mengerjakan banyak pekerjaan, melainkan juga jenis perhatian yang dibutuhkan oleh setiap aktivitas. Dua kegiatan yang sama-sama menuntut konsentrasi dan pengambilan keputusan akan lebih sulit dilakukan secara bersamaan.

Tidak semua aktivitas bersamaan memiliki dampak yang sama

Otak tetap dapat mengatur aktivitas tertentu pada waktu yang berdekatan, terutama jika salah satunya sudah bersifat otomatis. Berjalan sambil berbicara, misalnya, dapat terasa lebih mudah karena tidak kedua aktivitas tersebut menuntut tingkat perhatian yang sama seperti menulis laporan dan membalas pesan penting.

Perbedaan kebutuhan konsentrasi itu menjadi faktor penting dalam menilai dampak multitasking. Melakukan dua aktivitas sekaligus tidak selalu bermasalah. Persoalan muncul ketika keduanya memerlukan fokus penuh, pemrosesan informasi, serta keputusan pada saat yang sama.

Penelitian yang dikutip dalam penjelasan tersebut menunjukkan bahwa kinerja dapat menurun ketika seseorang menangani beberapa tugas dibandingkan saat ia berfokus pada satu pekerjaan. Penurunan itu berkaitan dengan kebutuhan otak untuk terus berpindah perhatian, bukan karena otak sama sekali tidak mampu mengatur lebih dari satu aktivitas.

Karena itu, perasaan telah mengerjakan banyak hal sekaligus belum tentu berarti seluruh pekerjaan diproses secara penuh pada waktu yang sama. Dalam banyak situasi, otak sebenarnya sedang berpindah dari satu tugas ke tugas lain—dan setiap perpindahan dapat mengurangi kelancaran pekerjaan yang sedang berlangsung.

Source link