Tuntaskan Balapan demi Menghormati Yamaha

by -76 Views

Toprak Razgatlioglu mengaku sempat mempertimbangkan untuk masuk pit dan mengakhiri balapan Grand Prix Austria karena Yamaha M1 miliknya nyaris tidak memiliki daya cengkeram pada ban Michelin. Namun, pebalap Pramac Racing itu memilih tetap melaju hingga finis sebagai bentuk penghormatan kepada Yamaha.

Razgatlioglu mengawali balapan di Sirkuit Spielberg dari posisi paling belakang, yakni urutan ke-22, setelah tertinggal sekitar dua detik dari pembalap tercepat dalam kualifikasi. Masalah traksi kembali muncul saat balapan berlangsung. Ia finis di posisi ke-20, lebih dari 46 detik di belakang pemenang, Pedro Acosta.

Grip hilang sejak awal balapan

Yamaha memang kesulitan sepanjang musim dalam debut motor bermesin V4 tersebut. Namun, defisit performa mereka di Austria semakin besar setelah Michelin memperkenalkan konstruksi dinding samping belakang yang lebih kaku untuk mengatasi beban berlebih pada ban di Spielberg.

Razgatlioglu mengatakan perubahan tersebut tidak menyelesaikan persoalan yang dihadapinya. Ia justru merasa ban belakang tidak memberikan cengkeraman sejak lap-lap awal, sehingga motor terus mengalami spin saat berakselerasi.

“Saya sangat terkejut karena pada awal balapan, dalam lima lap pertama, saya tidak merasakan grip sama sekali. Saya hanya merasa motor terus spin,” kata Razgatlioglu.

Menurut dia, kehilangan grip pada awal balapan sulit diterima karena kondisi ban masih baru. Penurunan performa ban menjelang akhir lomba dinilai wajar, tetapi situasi yang dialami Yamaha sudah terjadi sejak balapan dimulai.

“Saya benar-benar marah kepada motor ini. Saya terus bertanya kepada diri sendiri, kalau ini ban baru, bagaimana mungkin tidak ada grip sejak awal? Menjelang akhir balapan, ban memang turun performanya, tetapi pada awal balapan kami tidak bisa menerima kondisi seperti ini,” ujarnya.

Minimnya traksi membuat motor tidak mampu berakselerasi dengan baik. Razgatlioglu bahkan mengatakan Yamaha miliknya masih terus spin di lintasan lurus pada enam lap terakhir.

“Kalau motor tidak punya grip, motor tidak bisa berakselerasi. Dalam enam lap terakhir, saya terus bertanya kepada diri sendiri bagaimana mungkin bisa menyelesaikan balapan, karena di lintasan lurus motor terus spin,” katanya.

Yamaha menghadapi masa sulit

Razgatlioglu mengakui dirinya sempat berpikir untuk kembali ke pit dan berhenti dari balapan. Ia akhirnya bertahan karena menghormati Yamaha, meski menilai kecepatannya sangat buruk dan tidak menikmati jalannya perlombaan.

“Saya juga sempat berpikir untuk kembali ke pit, tetapi saya tetap menghormati Yamaha dengan terus membalap karena kecepatannya benar-benar buruk. Saya hanya berusaha menyelesaikan balapan. Saya rasa semua Yamaha mengalami hal yang sama,” ucapnya.

Ia menyebut balapan di Austria sebagai balapan terburuk kedua dalam kariernya. Pengalaman terburuknya terjadi di Thailand, ketika ia juga merasakan tidak adanya grip.

Yamaha kini berada dalam periode terburuknya di MotoGP. Fabio Quartararo, yang akan meninggalkan Yamaha, beberapa kali mengkritik minimnya perkembangan motor sepanjang musim. Razgatlioglu mengatakan seluruh anggota tim merasa sedih, tetapi tetap bekerja keras untuk menghadapi regulasi 2027.

“Kami masih punya banyak bulan untuk mempersiapkan tahun depan. Mereka bekerja sangat keras, dan kita lihat saja nanti,” kata Razgatlioglu.

Ia berharap Yamaha dapat menemukan solusi dan memulai musim depan dengan performa yang lebih kuat. Menurutnya, start yang baik akan penting untuk membangun kembali motivasi tim.

Source link