Lando Norris memilih mengambil risiko besar di sesi kualifikasi Grand Prix Azerbaijan demi menjaga peluang tipisnya dalam perebutan gelar juara dunia Formula 1 2026. Namun, upaya itu berakhir dengan kesalahan di lap terakhir Q3 yang membuat pembalap McLaren tersebut hanya menempati posisi kelima di grid.
Norris mengunci roda saat berusaha memperbaiki catatan waktunya di Sirkuit Baku. Ia mengakui kesalahan tersebut, tetapi menilai pendekatan agresif menjadi pilihan yang harus diambil mengingat jaraknya dengan pemuncak klasemen, Kimi Antonelli, kini mencapai 106 poin. Musim ini masih menyisakan sembilan balapan.
Tekanan mengejar Antonelli
Sejak McLaren membawa pembaruan terbesar mereka musim ini di Hungaria, Norris telah mengumpulkan 83 poin. Perolehan itu membuatnya bersaing dengan pembalap Mercedes, George Russell dan Lewis Hamilton, untuk posisi kedua klasemen. Namun, dalam periode yang sama, Antonelli tetap mencetak poin lebih banyak dan terus memperlebar keunggulannya.
Situasi tersebut mendorong Norris untuk tampil maksimal di Baku, meski McLaren diketahui kesulitan menemukan kecepatan di lintasan itu. “Di lap terakhir, saya membuat kesalahan dan harus membayar harganya,” kata Norris. “Tetapi saya berada di titik dalam kejuaraan ketika saya harus mengejar pole position atau mati-matian mencobanya. Tentu, hari ini saya membayar harga karena terlalu memaksakan diri, tetapi memang begitulah adanya.”
Posisi kelima Norris juga dipengaruhi persoalan teknis pada mobilnya. Kepala tim McLaren Andrea Stella memperkirakan masalah tersebut akan diperbaiki pada hari yang sama, sebelum balapan berlangsung pada Sabtu.
Terancam di lintasan lurus Baku
Norris menilai performa mobilnya di lintasan lurus menjadi salah satu persoalan utama. Ia mengatakan kemungkinan merupakan pembalap paling lambat di trek lurus, meski catatan kualifikasi menunjukkan dirinya berada di posisi ke-19 dalam daftar kecepatan, hanya lebih cepat daripada kedua Aston Martin dan Nico Hulkenberg dari Audi.
Kondisi itu membuat Norris khawatir akan kesulitan mempertahankan posisinya ketika balapan memasuki bagian-bagian panjang Sirkuit Baku. Ia bahkan menyebut dirinya berpotensi menjadi “sasaran empuk” bagi mobil-mobil di belakangnya. Ketika seorang jurnalis menyebut balapan tersebut akan menarik untuk dinantikan, Norris menjawab singkat, “Ya, bagi kalian, tentu saja. Bagi saya, tidak terlalu.”
Meski tekanan perebutan gelar tetap besar, Norris mengatakan dirinya kini tidak lagi dibebani keraguan seperti pada tahap awal karier. Sebagai juara dunia bertahan, ia merasa memiliki keyakinan internal bahwa target besar tersebut dapat dicapai.
“Saya bisa lebih jarang mempertanyakan diri sendiri karena memiliki keyakinan di dalam diri bahwa saya mampu meraih apa yang ingin saya capai,” ujarnya pada Rabu di Baku. Ia menegaskan tekanan tetap ada karena tim dan publik mengharapkan performa terbaik setiap akhir pekan. Namun, menurutnya, yang berubah bukan tekanan, melainkan kepercayaan terhadap kemampuannya sendiri setelah berhasil memenangi balapan dan gelar dunia.





