Arab Saudi Minta Indonesia Kirim Tentara Jaga Makkah-Madinah

by -66 Views

Ketika Perang Teluk meletus pada 1990, Arab Saudi meminta Indonesia mengirimkan tentara untuk membantu menjaga Makkah dan Madinah. Permintaan itu disampaikan saat Riyadh mencemaskan kemungkinan Irak memperluas serangan setelah pasukan Saddam Hussein menginvasi Kuwait.

Kekhawatiran tersebut mendorong Raja Arab Saudi Fahd mengutus Abdul Azis Al Thenayan untuk menemui Presiden Soeharto. Utusan khusus itu membawa permintaan agar Indonesia ikut menempatkan pasukan di Arab Saudi, bergabung dengan tentara dari sejumlah negara lain yang telah berada di wilayah kerajaan.

Permintaan tersebut diberitakan koran Suara Karya pada 10 Agustus 1990. Dalam laporan itu disebutkan, Arab Saudi meminta “pengertian Indonesia” untuk turut menjaga dua kota suci umat Islam tersebut.

Kehadiran Indonesia Dinilai Penting

Arab Saudi tidak semata-mata mempertimbangkan jumlah pasukan yang akan dikirim Indonesia. Kehadiran tentara Indonesia dinilai dapat memberi pesan politik bahwa negara-negara Islam atau negara dengan mayoritas penduduk Muslim tidak mendukung Irak dalam konflik yang sedang berlangsung.

Raja Fahd berharap Indonesia bersedia ikut menghadang kemungkinan serangan Irak ke wilayah Arab Saudi. Jika serangan meluas, Makkah dan Madinah termasuk lokasi yang dikhawatirkan berada dalam ancaman.

Namun, Presiden Soeharto tidak menyetujui permintaan tersebut. Penolakan disampaikan sehari setelah pertemuan dengan utusan Raja Fahd. Soeharto beralasan, konstitusi Indonesia tidak memberikan kewenangan kepada presiden untuk mengirimkan tentara ke luar negeri guna berperang melawan negara lain.

“Dalam konstitusi, tidak ada wewenang bagi presiden untuk mengirimkan beggitu saja pasukan ke luar negeri untuk berperang,” kata Soeharto, seperti dikutip Bali Post pada 10 Agustus 1990.

Menawarkan Misi Perdamaian PBB

Sebagai bentuk kontribusi yang dianggap sesuai, Soeharto menyebut Indonesia dapat mengirimkan pasukan perdamaian di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Menurut dia, Indonesia telah aktif terlibat dalam berbagai misi semacam itu, termasuk di Kongo, Mesir, Namibia, perbatasan Irak-Iran, dan Vietnam.

Pilihan tersebut sejalan dengan prinsip politik luar negeri Indonesia yang bebas dan aktif. Dalam kerangka itu, Indonesia tidak menempatkan diri sebagai pihak yang terlibat langsung maupun tidak langsung dalam perang antarnegara.

Meski demikian, catatan sejarah Indonesia juga memuat pengecualian. Pada 1945, Soekarno pernah memerintahkan TNI Angkatan Laut membantu Pakistan yang sedang berperang melawan India. Ketika itu, Indonesia mengirimkan satu kapal selam jenis Whiskey Class dan satu kapal cepat berpeluru kendali. Pengiriman tersebut dilakukan atas dasar solidaritas Islam.

Source link