Pejabat RI Nyaris Diracun Orang Tak Dikenal, Ini Faktanya

by -68 Views

Di tengah ketegangan politik Indonesia pada September–Oktober 1965, sebuah peristiwa tidak biasa terjadi di kediaman Panglima Kostrad Soeharto. Seorang perempuan muda yang mengaku sebagai anak Soeharto datang secara tiba-tiba, tetapi justru meninggalkan kecurigaan setelah ditemukan sebungkus bubuk yang tampak seperti racun tikus di dalam barang bawaannya.

Perempuan itu pertama kali diketahui oleh Siti Hartinah atau Ibu Tien, istri Soeharto. Saat menerima informasi mengenai keberadaannya, Ibu Tien mendapat kabar bahwa perempuan tersebut sedang menunggu di rumah Ketua MPR Chaerul Saleh di Jalan Teuku Umar, Jakarta.

Pengakuan yang diragukan

Ibu Tien kemudian mendatangi kediaman Chaerul Saleh. Berdasarkan autobiografi Siti Hartinah Soeharto: Ibu Utama Indonesia yang terbit pada 1992, ia datang mengenakan jaket tentara dan dikawal ajudan. Perempuan itu tidak ditemui untuk berbincang di rumah Saleh, melainkan langsung dibawa ke kediaman Ibu Tien.

Ketika itu, Ibu Tien dan Soeharto telah memiliki tujuh anak. Karena itu, pengakuan perempuan tersebut perlu diperiksa lebih jauh. Ibu Tien menanyakan identitas dan maksud kedatangannya untuk memastikan apakah ia benar-benar anak Soeharto dari perempuan lain.

Namun, jawaban yang diberikan dinilai tidak selaras. Ibu Tien juga tidak melihat kemiripan fisik antara perempuan itu dan Soeharto. Keraguan tersebut akhirnya membuatnya menyimpulkan, “Saya jadi yakin ini bukan anak Pak Harto.”

Kecurigaan bertambah setelah barang bawaan perempuan itu diperiksa. Dari dalam koper ditemukan sebuah gitar dan sebungkus bubuk yang tampak seperti pembasmi tikus. Temuan tersebut membuat kedatangannya dipandang bukan sekadar sebagai upaya seseorang untuk mengaku sebagai anak seorang pejabat militer.

Melarikan diri lewat jendela

Hari sudah larut malam dan perempuan itu terlihat kelelahan. Ia kemudian diminta beristirahat di sebuah kamar. Demi alasan keamanan, kamar tersebut dikunci dari luar. Setelah itu, Ibu Tien melaporkan kejadian tersebut kepada Soeharto yang sedang berada di Markas Kostrad.

Soeharto mengarahkan agar perempuan tersebut dibawa ke Kostrad pada keesokan harinya. Rencana itu tidak pernah terlaksana. Ketika kamar dibuka pada pagi hari, perempuan tersebut telah menghilang. Ia melarikan diri melalui jendela dengan memanfaatkan kain gorden.

Pelarian itu tidak diketahui siapa pun. Jendela kamar tersebut juga sebelumnya tidak disadari dapat digunakan sebagai jalan keluar. Sejak saat itu, keberadaan perempuan tersebut tidak pernah diketahui lagi. Identitas, latar belakang, dan tujuan kedatangannya pun tidak pernah terungkap secara jelas.

Bagi Ibu Tien, keberadaan bubuk yang tampak seperti racun tikus menunjukkan adanya maksud jahat. “Jelas dia bermaksud jahat. Mungkin direncanakan oleh unsur Gerakan 30 September untuk melenyapkan Panglima Kostrad dengan racun tikus yang dibawanya,” ujar Ibu Tien.

Setahun setelah peristiwa itu, Soeharto menjadi salah satu tokoh penting di Indonesia. Ia kemudian tercatat dalam sejarah sebagai Presiden ke-2 Republik Indonesia dan menjabat hingga 1998.

Source link