Kenapa Sinar Matahari Pagi Baik untuk Tubuh?

by -82 Views

Bagi banyak orang, pagi dimulai dengan meraih ponsel. Namun, sebelum mata terpaku pada layar, tubuh sebenarnya membutuhkan sinyal alami dari cahaya untuk menyesuaikan diri dengan pergantian siang dan malam. Cahaya yang masuk ke mata tidak hanya membantu penglihatan, tetapi juga memberi informasi penting bagi sistem biologis yang bekerja sepanjang 24 jam.

Ritme tersebut dikenal sebagai ritme sirkadian. Sistem ini membantu tubuh mengatur berbagai fungsi berdasarkan waktu, termasuk kapan harus lebih aktif dan kapan bersiap beristirahat. Tinjauan yang dimuat dalam Public Health Reviews pada 2026, sebagaimana dilansir National Center for Biotechnology Information, menyebut cahaya sebagai salah satu sinyal utama yang menyelaraskan ritme sirkadian.

Cahaya pagi menjadi penanda dimulainya hari

Paparan cahaya dapat memengaruhi waktu kerja ritme sirkadian, tidur, kewaspadaan, suasana hati, hingga kemampuan kognitif. Ketika tubuh menerima cahaya pada pagi hari, sinyal tersebut membantu menandai bahwa siklus aktif harian telah dimulai.

Dengan kata lain, cahaya pagi berperan sebagai informasi waktu bagi tubuh. Sinyal terang dan gelap yang diterima secara teratur membantu tubuh menyesuaikan berbagai proses internal dengan waktu dalam sehari. Karena itu, cahaya alami pada pagi hari bukan sekadar kondisi lingkungan, melainkan bagian dari sistem yang membantu tubuh mengenali perbedaan antara waktu beraktivitas dan waktu beristirahat.

Kaitan dengan kualitas tidur

Hubungan antara cahaya pagi dan tidur juga terlihat dalam penelitian yang diterbitkan BMC Public Health pada 2025. Studi terhadap 1.762 orang dewasa di Brasil itu menemukan bahwa paparan sinar matahari pada pagi hari berkaitan dengan sleep midpoint yang lebih awal serta skor kualitas tidur yang lebih baik.

Meski demikian, hasil tersebut tidak dapat diartikan sebagai bukti bahwa sinar matahari pagi secara langsung menyebabkan tidur menjadi lebih baik. Penelitian itu menggunakan metode cross-sectional, yakni mengamati populasi pada satu titik waktu. Temuannya menunjukkan adanya hubungan, bukan kepastian sebab-akibat.

Karena itu, tidak ada aturan tunggal yang mewajibkan setiap orang berjemur selama 30 menit atau satu jam setiap pagi. Tinjauan 2026 menyebut respons tubuh terhadap cahaya dipengaruhi banyak faktor, antara lain waktu paparan, intensitas, spektrum, durasi, paparan cahaya sebelumnya, usia, jadwal kerja, kondisi kesehatan, dan lokasi geografis.

Memperoleh cahaya pagi pun dapat dilakukan dengan menyisipkannya ke dalam rutinitas harian. Seseorang bisa memanfaatkan cahaya alami saat duduk, beraktivitas di rumah, sarapan, atau—bila memungkinkan—melakukan kegiatan pagi di luar ruangan.

Kebiasaan tersebut memberi tubuh kesempatan menerima pola terang dan gelap yang selaras dengan siklus harian. Jadi, sebelum langsung menatap layar setelah bangun tidur, membiarkan tubuh memperoleh cahaya pagi terlebih dahulu dapat menjadi bagian dari rutinitas untuk membantu mengenali dimulainya hari.

Source link