Mesin Ekonomi Tertua di Dunia yang Bikin Negara Kaya

by -74 Views

Perbudakan menjadi salah satu fondasi utama yang menopang kehidupan ekonomi Kekaisaran Romawi. Sistem ini bukan hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja, melainkan terintegrasi hampir ke seluruh aktivitas masyarakat—dari rumah tangga, pertanian, pertambangan, dan pembangunan hingga birokrasi.

Sejarawan Emma Southon, dalam tulisannya di National Geographic, menggambarkan posisi perbudakan dalam kekaisaran yang berdiri sejak 27 SM itu dengan kalimat tegas: “Itu bukan sekadar bagian dari ekonomi Romawi; itu adalah ekonomi Romawi.”

Ekspansi wilayah memperbesar jumlah budak

Perkembangan sistem tersebut berjalan seiring dengan ekspansi militer Roma. Setiap wilayah yang ditaklukkan membuka peluang bagi Roma untuk menangkap dan memperjualbelikan lebih banyak manusia. Penduduk dari kota-kota yang jatuh dikumpulkan, lalu dijual kepada para pedagang yang mengikuti pasukan Romawi.

Dalam penaklukan wilayah Gaul, Julius Caesar bahkan mengklaim telah memperbudak sekitar satu juta orang. Pada periode tertentu, orang-orang yang diperbudak diperkirakan mencapai sekitar 30 persen dari total penduduk Kekaisaran Romawi.

Jumlah besar itu kemudian disalurkan ke berbagai sektor. Mereka memproduksi jutaan batu bata dan ubin secara manual, menambang marmer di sejumlah wilayah, serta mengangkutnya melintasi Laut Mediterania. Material tersebut digunakan untuk membangun kuil, forum, amfiteater, dan berbagai bangunan elite yang menjadi simbol kemegahan Roma.

Dari rumah tangga hingga birokrasi

Peran orang-orang yang diperbudak tidak selalu terlihat dalam bangunan monumental. Sekitar 700 orang, misalnya, ditugaskan untuk merawat saluran air dan air mancur di Roma. Sebagian lainnya menjadi petugas kuil, penyalin dokumen, pegawai birokrasi, pekerja tambang, serta pelayan rumah tangga.

Kehidupan domestik kalangan elite juga sangat bergantung pada sistem ini. Sebuah rumah dapat memiliki ratusan orang yang diperbudak untuk mengurus beragam kebutuhan pemiliknya. Bahkan keluarga biasa pun bisa memiliki satu atau dua orang untuk membantu pekerjaan sehari-hari.

Dengan begitu luasnya penggunaan tenaga mereka, perbudakan hadir di hampir setiap lapisan kehidupan Romawi. Namun, posisi tersebut tidak membuat orang-orang yang diperbudak memiliki perlindungan yang memadai. Kehidupan mereka dibayangi kekerasan dan hilangnya identitas pribadi.

Kekerasan dan peluang bebas yang terbatas

Tabib Galen mencatat pernah menyaksikan orang-orang yang diperbudak diserang menggunakan pena dan pedang. Serangan itu menyebabkan patah tulang serta kerusakan pada mata. Pada 319 Masehi, Kaisar Konstantinus mengeluarkan aturan yang melarang pemilik membunuh budaknya.

Southon menilai, menjadi budak berarti menghadapi kemungkinan kekerasan dari pemilik sekaligus kehilangan identitas. Hanya sebagian kecil yang akhirnya berhasil memperoleh kebebasan. Di pemakaman kekaisaran Kartago yang berisi sekitar 1.300 orang, dua pertiga di antaranya meninggal ketika masih berstatus budak.

Di Indonesia, sistem perbudakan juga pernah digunakan pada beberapa masa. Namun, seperti di berbagai belahan dunia lainnya, praktik tersebut kini telah dilarang.

Source link