Kapal Tenggelam karena Pintu Copot, 852 Orang Tewas

by -76 Views

Dalam waktu kurang dari satu jam, MS Estonia berubah dari kapal feri yang melintasi Laut Baltik menjadi lokasi salah satu tragedi maritim paling mematikan di Eropa. Pintu depan kapal terlepas, air laut membanjiri dek kendaraan, lalu kapal kehilangan keseimbangan dan tenggelam pada 28 September 1994.

MS Estonia saat itu membawa 989 orang dalam perjalanan dari Tallinn, Estonia, menuju Stockholm, Swedia. Kapal berlayar di tengah hujan badai dengan gelombang yang diperkirakan mencapai 4 hingga 6 meter. Tidak ada tanda yang dirasakan para penumpang bahwa perjalanan tersebut akan berakhir dengan bencana.

Air Membanjiri Dek Kendaraan

Sekitar pukul 01.00 dini hari, penumpang mendengar dentuman keras dari bagian depan kapal. Berdasarkan kesaksian yang dikutip dari situs Estonianworld, suara itu berasal dari pintu depan yang digunakan untuk memasukkan kendaraan ke dalam kapal. Pintu tersebut tiba-tiba terlepas akibat hantaman gelombang.

Setelah pintu terbuka, air laut mengalir langsung ke dek kendaraan dalam jumlah besar. Air kemudian menyebar di permukaan dek yang luas. Kondisi itu membuat bobot kapal bertambah dan stabilitasnya memburuk dengan cepat.

Kapal mulai miring sehingga proses evakuasi menjadi sangat sulit. Tangga berubah hampir vertikal, sedangkan sejumlah jalur keluar tidak lagi dapat digunakan. Penumpang kesulitan mencapai pintu penyelamatan maupun sekoci karena perubahan posisi kapal berlangsung dalam waktu singkat.

Sekitar 40 menit setelah pintu depan terlepas, MS Estonia tenggelam di Laut Baltik. Dari 989 orang di dalam kapal, hanya 137 yang selamat. Sebanyak 852 orang lainnya meninggal dunia.

Kombinasi Gelombang dan Kelemahan Pengunci

Mengutip laporan Kementerian Transportasi dan Komunikasi, penyebab utama terlepasnya pintu depan merupakan kombinasi antara hantaman gelombang yang sangat kuat dan kelemahan pada mekanisme penguncinya. Tekanan gelombang merusak sistem pengunci hingga pintu akhirnya terlepas.

Masuknya air ke dek kendaraan menjadi faktor penting dalam memburuknya keadaan. Pada kapal feri, air yang menggenang di area tersebut dapat bergerak bebas ketika kapal mulai miring. Pergerakan air membuat stabilitas kapal semakin terganggu dan mempercepat proses tenggelam.

Perubahan Standar Keselamatan Feri

Tragedi MS Estonia kemudian mendorong perubahan pada standar keselamatan kapal feri penumpang. Kapal-kapal lama harus dimodifikasi untuk meningkatkan kemampuan bertahan ketika mengalami kerusakan dan mencegah air menyebar terlalu luas di dalam kapal.

Dek kendaraan mulai dibagi menjadi beberapa bagian untuk membatasi pergerakan air. Struktur lambung diperkuat, sementara rancangan serta mekanisme pintu depan mendapat perhatian lebih besar. Perubahan tersebut lahir dari pelajaran bahwa kerusakan pada satu bagian kapal dapat berkembang menjadi bencana besar apabila air masuk ke dek kendaraan.

MS Estonia dikenang bukan hanya karena tenggelam di Laut Baltik, tetapi juga karena 852 orang kehilangan nyawa dalam peristiwa yang bermula dari terlepasnya sebuah pintu dan berkembang menjadi tragedi dalam hitungan menit.

Source link