Negara Muslim Diam-Diam Bocorkan Rahasia Pemimpin Arab ke Israel

by -72 Views

Konferensi Tingkat Tinggi Liga Arab di Casablanca pada 1965 tidak hanya membahas kesiapan negara-negara Arab menghadapi Israel. Pertemuan yang dihadiri para pemimpin politik, komandan militer, dan kepala intelijen dari Mesir, Suriah, Yordania, serta sejumlah negara Arab lain itu juga menjadi arena operasi intelijen rahasia yang melibatkan Maroko dan Israel.

Menurut laporan Ynet yang dikutip dalam artikel tersebut, pembicaraan strategis para peserta konferensi diam-diam dipantau dan direkam. Informasi itu kemudian diserahkan kepada Israel oleh intelijen Maroko.

Operasi rahasia di balik konferensi

Agenda pertemuan di Casablanca berfokus pada kemampuan militer negara-negara Arab dalam menghadapi kemungkinan perang dengan Israel. Para peserta membicarakan kekuatan pasukan, persenjataan, serta strategi yang akan digunakan. Dalam salah satu momen yang disebutkan, Raja Yordania dan Presiden Mesir bahkan terlibat perdebatan mengenai cara mengalahkan Israel.

Di tengah pembahasan tersebut, Raja Hassan II dari Maroko disebut mengizinkan Mossad, badan intelijen Israel, untuk memantau jalannya konferensi. Mantan Kepala Intelijen Militer Israel, Mayor Jenderal Shlomo Gazit, mengatakan kepada Ynet bahwa sebuah tim gabungan yang dipimpin Peter Zvi Malkin dan Rafi Eitan tiba di Casablanca.

“Sebuah tim gabungan yang dipimpin oleh Peter Zvi Malkin dan Rafi Eitan dari dinas keamanan internal Israel dan Mossad tiba di Casablanca, dan pihak Maroko menutup seluruh lantai hotel untuk mereka,” kata Gazit.

Namun, operasi tersebut tidak berjalan sepenuhnya seperti rencana awal. Di tengah konferensi, Hassan II meminta Mossad menghentikan pemantauan langsung karena khawatir keberadaan personel Israel diketahui para peserta. Sebagai gantinya, badan intelijen Maroko mengambil alih proses perekaman dan menyampaikan isi pembicaraan para pemimpin Arab kepada Israel secara diam-diam.

Informasi yang disebut berperan dalam Perang Enam Hari

Dua tahun setelah konferensi Casablanca, pecah perang antara Israel dan sejumlah negara Arab. Rekaman hasil operasi 1965 itu disebut menjadi salah satu informasi penting yang membantu Israel memahami strategi lawan.

Konflik tersebut dikenal sebagai Perang Enam Hari. Dalam perang itu, Israel berhasil mengalahkan negara-negara Arab yang terlibat. Mengutip Ynet, Perdana Menteri Israel saat itu, Levi Eshkol, menggambarkan operasi Casablanca sebagai “salah satu keberhasilan terbesar intelijen Israel”.

Meski demikian, informasi tersebut ditempatkan dalam konteks kerja sama rahasia yang telah berlangsung antara Maroko dan Israel sejak 1963. Riset berjudul Israel and Morocco: From Clandestine Partnership to the Abraham Accords menyebut hubungan awal kedua negara berkembang ketika Hassan II berkuasa.

Hubungan Maroko-Israel berkembang bertahap

Hassan II memilih membangun kedekatan dengan blok Barat yang dipimpin Amerika Serikat, bukan berpihak kepada negara-negara Muslim dan blok Timur. Salah satu kebijakannya adalah memfasilitasi emigrasi sekitar 100 ribu orang Yahudi Maroko ke Israel-Palestina, Amerika Serikat, Kanada, dan Prancis.

Pada periode tersebut, Maroko memiliki komunitas Yahudi terbesar di dunia Arab. Sekitar 270 ribu orang Yahudi Maroko tercatat tinggal di kerajaan itu. Sebagai imbalannya, Maroko menerima pembayaran dari Israel.

Memasuki dekade 1980-an, hubungan kedua negara mulai terlihat secara terbuka melalui pertemuan dan pendirian kantor penghubung. Hubungan itu terus berkembang. Mengutip Al Jazeera, Israel dan Maroko sepakat meningkatkan hubungan diplomatik, termasuk melalui jual-beli senjata, peningkatan status perwakilan menjadi kedutaan besar, serta penunjukan duta besar untuk kedua negara pada 2026.

Source link